Monday, April 15, 2013

Yang namanya Pilkada di Indonesia hampir setiap bulan terjadi. Dengan wilayah yang luas dan terbaginya wilayah dalam Pemerintahan Kabupaten, Kotamadya, Provinsi dan NKRI yang dikepalai oleh seorang Kepala Daerah, mulai dari Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden, hampir bisa dipastikan Pilkada menjadi santapan sehari-hari. Ini bisa dibuktikan dari seringnya teman saya yang bekerja di KPU hilir mudik ke luar daerah yang sedang melaksanakan Pilkada. Padahal itu baru dalam satu Provinsi saja, belum lagi kalau sudah keluar Provinsi, hampir bisa dipastikan dalam sebulan dia berada di rumah hanya hari liburnya saja.
Nah, bagi penduduk Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam memilih Calon Kepala Daerah yang kelak akan menjadi Kepala Daerah di tempat tinggal mereka, berikut adalah tips and trik dalam menentukan pilihan.
 
 
11.  Asal, Usul
 
Jangan memilih calon pemimpin kita yang kita tidak mengenal asal usulnya. Ini wajib diketahui, karena memilih calon pasangan hiduppun kita harus mengenal asal-usulnya, apalagi memilih orang yang akan memimpin kita. Karena hanya dengan cara mengenal seseorang itulah maka akan menimbulkan cintah kasih sehingga bisa menciptakan kehidupan yang harmonis. Orang yang bisa bergaul dengan baik jika dia mengenali asal usulnya apalagi ada kesamaan dengan wilayah yang dia pimpin. Bagaimana seseorang yang tak mengenal wayang akan larut menonton wayang semalam suntuk. Atau seorang yang tak mengenal tari Kecak akan kagum dengan tariannya. Seseorang yang tak pernah datang ke gereja akan ikut masuk gereja, seseorang yang tak pernah shalat akan menjadi imam shalat. Lah, orang yang beribadah saja masih sering berbuat salah, apalagi yang tidak beribadah. Calon incumbent lebih mudah dikenali, karena sudah memimpin pada periode sebelumnya. Oleh karena itu pasangan incumbent paling rentan terhadap sorotan yang buruk. Penyebabnya tak lain adalah, hasil kerjanya selama memimpin dipriode sebelumnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakatnya. Sedikit saja kekurangberhasilannya diekspos maka akan mengembanglah kelemahan-kelemahan seorang incumbent. Oleh sebab itu, sebaiknya kita mencari titik keberhasilan seorang incumbent, karena pasti setiap pemimpin, siapapun dia, ada keberhasilannya dan ada ketidakberhasilannya, sama saja seperti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Itulah Pemimpin yang sebenarnya, kalau semua orang suka atau semua orang tidak suka, itu bukanlah seorang pemimpin. Sedangkan yang agak susah dicari titik lemahnya adalah calon penantang, apalagi kalau dia munculnya tiba-tiba saja, tanpa pernah menjabat sebelumnya, atau pernah menjabat pada skala yang lebih kecil, tentu saja mudah sekali untuk menciptakan image yang bagus. Oleh sebab itu sebagai pemilih kita tidak boleh langsung menerima begitu saja. Informasi dapat digali dari orang-orang yang merasakan langsung saat dipimpinnya, bila perlu lakukan kunjungan ke lembaga atau wilayah yang pernah dia pimpin, di sana akan tergali dengan sendirinya dari para mantan bawahan atau hasil pengamatan kita. Selain itu berita-berita di internet dapat dijadikan acuan. Pilihlah website dari si calon itu sendiri, baru hubungkan dengan berita-berita lainnya yang ditulis oleh orang lain, biasanya ada titik temunya.
 
2. 2. Visi dan Misi
 
Visi dan Misi seorang yang akan memimpin kita harus jelas. Kejelasannya dapat dilihat dari data pribadi yang dibuat saat mereka mendaftarkan diri di KPU. Jangan mudah terpengaruh dengan visi dan misi yang ada di selebaran, karena visi dan misi yang sering disebarkan di sembarang tempat banyak yang bohong atau mungkin issue yang ditiupkan oleh lawan-lawan politik atau mungkin issue yang ingin diangkat oleh pasangan itu sendiri demi mengangkat popularitasnya. Selain itu perlu juga difahami visi dan misi dari partai yang mendukungnya, karena jika visi dan misi mereka justru bertentangan akan sulitlah bagi sang pimpinan untuk menjalankan programnya. Karena biar bagaimana berkuasanya rakyat tetap saja keputusan menjalankan programnya ditangan partai yang mendukungnya, tentu saja yang sudah duduk jadi Anggota DPR.
 
3. 3. Jangan Terpengaruh Dengan Money Politik
 
Di zaman sekarang ini banyak orang yang ingin jadi pimpinan rela mengeluarkan biaya besar untuk mendulang suara. Padahal banyak pula ujung-ujungnya di penjara. Heh- Berbagai cara mereka lakukan. Salah satu yang paling populer adalah money politik. Jika sebelumnya kita sudah menentukan pilihan terhadap satu calon dan ternyata dalam perkembangannya calon ini menggunakan money politik, jangan serta merta menilainya negatif, lihat rekam jejak sebelum ada Pilkada, apakah dia memang sudah rajin memberi atau pada saat jelang Pilkada saja. Jika memang iya, artinya sang calon hanya meneruskan program dia sebelumnya. Ini artinya masih dapat dipertimbangkan untuk dipilih.
 
4. 4. Dicalonkan atau Mencalonkan
 
Dalam agama Islam adalah hadits Rasullullah SAW yang artinya : “Jangan memberikan jabatan kepada orang yang meminta”. Nah, dalam iklim perpolitikan di Indonesia, sepertinya tidak berlaku. Bukankan mengikuti Pemilu adalah suatu permintaan? Oleh sebab itu kita dapat meluaskan lagi maknanya. Lihat sang calon tersebut, diminta oleh partainya atau dia yang mencalonkan diri ke partai tersebut. Tapi apapun itu bentuknya, tetap sama saja, yaitu mencalonkan diri untuk menempati jabatan tertentu. Oleh sebab itu pilihlah orang yang ahli di bidangnya. Karena kata Rasullullah SAW, kalau menempatkan orang yang bukan ahli di bidangnya, maka tunggu saja kehancurannya.
Inilah sedikit tips dari saya, semoga dapat menambah wawasan, tapi jangan dijadikan ukuran.
Salam sahabat.

Tip and Trik Memilih Calon Pemimpin

Yang namanya Pilkada di Indonesia hampir setiap bulan terjadi. Dengan wilayah yang luas dan terbaginya wilayah dalam Pemerintahan Kabupaten, Kotamadya, Provinsi dan NKRI yang dikepalai oleh seorang Kepala Daerah, mulai dari Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden, hampir bisa dipastikan Pilkada menjadi santapan sehari-hari. Ini bisa dibuktikan dari seringnya teman saya yang bekerja di KPU hilir mudik ke luar daerah yang sedang melaksanakan Pilkada. Padahal itu baru dalam satu Provinsi saja, belum lagi kalau sudah keluar Provinsi, hampir bisa dipastikan dalam sebulan dia berada di rumah hanya hari liburnya saja.
Nah, bagi penduduk Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam memilih Calon Kepala Daerah yang kelak akan menjadi Kepala Daerah di tempat tinggal mereka, berikut adalah tips and trik dalam menentukan pilihan.
 
 
11.  Asal, Usul
 
Jangan memilih calon pemimpin kita yang kita tidak mengenal asal usulnya. Ini wajib diketahui, karena memilih calon pasangan hiduppun kita harus mengenal asal-usulnya, apalagi memilih orang yang akan memimpin kita. Karena hanya dengan cara mengenal seseorang itulah maka akan menimbulkan cintah kasih sehingga bisa menciptakan kehidupan yang harmonis. Orang yang bisa bergaul dengan baik jika dia mengenali asal usulnya apalagi ada kesamaan dengan wilayah yang dia pimpin. Bagaimana seseorang yang tak mengenal wayang akan larut menonton wayang semalam suntuk. Atau seorang yang tak mengenal tari Kecak akan kagum dengan tariannya. Seseorang yang tak pernah datang ke gereja akan ikut masuk gereja, seseorang yang tak pernah shalat akan menjadi imam shalat. Lah, orang yang beribadah saja masih sering berbuat salah, apalagi yang tidak beribadah. Calon incumbent lebih mudah dikenali, karena sudah memimpin pada periode sebelumnya. Oleh karena itu pasangan incumbent paling rentan terhadap sorotan yang buruk. Penyebabnya tak lain adalah, hasil kerjanya selama memimpin dipriode sebelumnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakatnya. Sedikit saja kekurangberhasilannya diekspos maka akan mengembanglah kelemahan-kelemahan seorang incumbent. Oleh sebab itu, sebaiknya kita mencari titik keberhasilan seorang incumbent, karena pasti setiap pemimpin, siapapun dia, ada keberhasilannya dan ada ketidakberhasilannya, sama saja seperti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Itulah Pemimpin yang sebenarnya, kalau semua orang suka atau semua orang tidak suka, itu bukanlah seorang pemimpin. Sedangkan yang agak susah dicari titik lemahnya adalah calon penantang, apalagi kalau dia munculnya tiba-tiba saja, tanpa pernah menjabat sebelumnya, atau pernah menjabat pada skala yang lebih kecil, tentu saja mudah sekali untuk menciptakan image yang bagus. Oleh sebab itu sebagai pemilih kita tidak boleh langsung menerima begitu saja. Informasi dapat digali dari orang-orang yang merasakan langsung saat dipimpinnya, bila perlu lakukan kunjungan ke lembaga atau wilayah yang pernah dia pimpin, di sana akan tergali dengan sendirinya dari para mantan bawahan atau hasil pengamatan kita. Selain itu berita-berita di internet dapat dijadikan acuan. Pilihlah website dari si calon itu sendiri, baru hubungkan dengan berita-berita lainnya yang ditulis oleh orang lain, biasanya ada titik temunya.
 
2. 2. Visi dan Misi
 
Visi dan Misi seorang yang akan memimpin kita harus jelas. Kejelasannya dapat dilihat dari data pribadi yang dibuat saat mereka mendaftarkan diri di KPU. Jangan mudah terpengaruh dengan visi dan misi yang ada di selebaran, karena visi dan misi yang sering disebarkan di sembarang tempat banyak yang bohong atau mungkin issue yang ditiupkan oleh lawan-lawan politik atau mungkin issue yang ingin diangkat oleh pasangan itu sendiri demi mengangkat popularitasnya. Selain itu perlu juga difahami visi dan misi dari partai yang mendukungnya, karena jika visi dan misi mereka justru bertentangan akan sulitlah bagi sang pimpinan untuk menjalankan programnya. Karena biar bagaimana berkuasanya rakyat tetap saja keputusan menjalankan programnya ditangan partai yang mendukungnya, tentu saja yang sudah duduk jadi Anggota DPR.
 
3. 3. Jangan Terpengaruh Dengan Money Politik
 
Di zaman sekarang ini banyak orang yang ingin jadi pimpinan rela mengeluarkan biaya besar untuk mendulang suara. Padahal banyak pula ujung-ujungnya di penjara. Heh- Berbagai cara mereka lakukan. Salah satu yang paling populer adalah money politik. Jika sebelumnya kita sudah menentukan pilihan terhadap satu calon dan ternyata dalam perkembangannya calon ini menggunakan money politik, jangan serta merta menilainya negatif, lihat rekam jejak sebelum ada Pilkada, apakah dia memang sudah rajin memberi atau pada saat jelang Pilkada saja. Jika memang iya, artinya sang calon hanya meneruskan program dia sebelumnya. Ini artinya masih dapat dipertimbangkan untuk dipilih.
 
4. 4. Dicalonkan atau Mencalonkan
 
Dalam agama Islam adalah hadits Rasullullah SAW yang artinya : “Jangan memberikan jabatan kepada orang yang meminta”. Nah, dalam iklim perpolitikan di Indonesia, sepertinya tidak berlaku. Bukankan mengikuti Pemilu adalah suatu permintaan? Oleh sebab itu kita dapat meluaskan lagi maknanya. Lihat sang calon tersebut, diminta oleh partainya atau dia yang mencalonkan diri ke partai tersebut. Tapi apapun itu bentuknya, tetap sama saja, yaitu mencalonkan diri untuk menempati jabatan tertentu. Oleh sebab itu pilihlah orang yang ahli di bidangnya. Karena kata Rasullullah SAW, kalau menempatkan orang yang bukan ahli di bidangnya, maka tunggu saja kehancurannya.
Inilah sedikit tips dari saya, semoga dapat menambah wawasan, tapi jangan dijadikan ukuran.
Salam sahabat.